ads

Sabtu, 23 Julai 2011

12 di sungai panjang - Google Blog Search


URL Sumber Asal :-

12 di sungai panjang - Google Blog Search


Mancing <b>di</b> Selat <b>Panjang Sungai</b> Kakap, Gigi dan Rahang Dulhan <b>...</b>

Posted: 24 May 2011 04:10 AM PDT


Hasanuddin memperlihatkan luka yang diderita Dulhan, anaknya, setelah dikibas buaya di Sungai Selat Panjang, Senin (23/5).

PONTIANAK – Mancing udang di perairan Selat Panjang, Sungai Kakap, Hasanuddin, 55, dan Dulhan, 16, anaknya serta Fauzi, 39, dikibas buaya, Sabtu (21/5). Bahkan Fauzi tewas tenggelam.

"Dulhan anak saya giginya patah dikibas ekor buaya. Tetapi Fauzi yang juga anak angkat saya tidak bisa diselamatkan, karena tidak bisa berenang," ungkap Hasanuddin warga Parit Keladi Sungai Kakap, Senin (23/5).

Dikatakan Hasanuddin mereka memancing menggunakan dua sampan. Ditiup angin kencang, sampan mereka terbalik. "Kami menggunakan sampan kecil yang diikat di sampan besar. Secara tiba-tiba sekitar pukul 17.00 datang angin yang sangat kencang dan hujan deras, sehingga sampan terbalik. Kami bertiga meloncat dari sampan," ujar Hasanuddin.

Para pemancing udang tersebut berusaha menyelamatkan diri. Fauzi tidak bisa diselamatkan karena tidak bisa berenang. "Saya terus berusaha membantu Fauzi. Tetapi tubuhnya semakin ke dalam air. Saya berusaha untuk mendorongnya ke atas. Saya susah bernapas mengangkat tubuhnya, lalu saya lepaskan Fauzi," ungkap Hasanuddin.

Sementara Dulhan terus berusaha berenang ke tepi sungai. Akhirnya bisa menyelamatkan diri. "Saat timbul dari dalam air, setelah berusaha menyelamatkan Fauzi, saya menemukan jeriken bensin lima liter. Jeriken itu yang menyelamatkan saya hingga bisa mengapung ke pinggir sungai," papar Hasanuddin.

Hasanuddin dan kedua anaknya memancing jauh dari pemukiman warga. Setelah sampai ke pinggir sungai yang tidak ada penduduknya, Hasanuddin dan Dulhan berenang menggunakan kayu untuk meminta pertolongan warga. "Ketika berenang itulah, ada seekor buaya langsung menyambar leher saya. Untung saja tidak kena. Namun anak saya terkena ekornya sampai gigi dan rahangnya patah," tambah Hasanuddin.

Hasanuddin dan anaknya terus berusaha berenang menyeberangi sungai. Mereka diikuti dua ekor buaya yang sangat besar. "Buaya yang agak kecil mengamuk. Saya sempat heran, melihat buaya yang mengamuk dihalangi oleh buaya yang besar. Saya sama anak saya sudah pasrah, hingga saya sampai ke seberang untuk minta pertolongan," ungkapnya.

Hasanuddin minta tolong warga, membantu mencari Fauzi yang tenggelam. Warga berkoordinasi dengan Tim SAR dan Polairud untuk membantu mencari Fauzi. Dua hari kemudian, Senin (23/5) dini hari, tubuh Fauzi mengapung tak bernyawa.

Fauzi tinggal di Jalan Ya' M Sabran, Gang Nangka, Tanjung Hulu, Pontianak Timur. Fauzi sering mengikut Hasanuddin memancing udang. "Kami sudah bilang sama keluarganya tentang peristiwa kematian korban. Mereka mengerti karena mengetahui Fauzi tidak bisa berenang. Fauzi dikubur Senin kemarin," jelas Hasanuddin. (sul)

SUMBER

Related posts:

  1. Lidah Buaya Pontianak Berpeluang Masuk Jepang
  2. Oknum Guru Sui Kakap Hamili Ponakan
  3. 400 Hektar Kebun Sawit di Sungai Pinyuh Terbakar
  4. 200 Ton CPO Tumpah di Sungai Pawan
  5. Dipelasah Suami, Bunga (nama samaran) Panjat Tower Listrik Tegangan Tinggi di Sungai Kunyit

from your own site.

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by Used Car Search.

0 ulasan:

Catat Ulasan

 

BLOG SELANGOR

Copyright 2010 All Rights Reserved